
cerita ini berawal dari sebuah pertemuan, pertemuan yang tidak butuh persiapan, pertemuan yang terjadi akibat adanya campur tangan dunia maya, dunia tanpa batas, bahkan batas visual pun sekarang sudah mulai bisa ditembus..
saya bertemu dengan seseorang bernama Arei, lengkapnya Areilla..tidak ada yang menarik saat bertemu Arei untuk pertama kalinya, tidak juga dia terlihat istimewa, mahasisiwi biasa..hanya basa basi seperti yang biasa kita lakukan di dunia maya tertuang dari mulut kita pada menit2 awal…
membosankan?mungkin, nenek saya pun bisa kalau hanya disuruh untuk menemani mengobrol dengan topik yang seperti ini…tapi jam terus bergerak cepat, semua kebosanan yang tadi ada menguap seketika bersama debu-debu jalanan..saya merasakan kehangatan dari dirinya, bahkan sangat hangat, dinginnya sore itu pun terkalahkan.. terasa nyaman, atau mungkin terlalu nyaman hingga saya enggan untuk melepas obrolan walau seper sekian detik..
disini saya baru mengenal dia, ternyata dia seorang pelukis, pelukis kanvas kehidupan..dia berfikir lama untuk menggambar coretannya, karena dia tidak tahu kanvas seperti apa yang dihadapinya, kanvas kontemporer berlatar putih tanpa noda tercipta, atau bahkan kanvas yang bergelombang yang sudah penuh warna-warna tak beraturan,sehingga diperlukan kehati2an untuk menggambarinya…
Setelah melihat kanvasnya, dia siap untuk menggoreskan cat-cat airnya..dan sore ini, kehidupan saya lah yang menjadi kanvasnya…dalam beberapa menit, kehidupan saya mulai dipenuhi coretan2 keindahan yang abstrak, yang saya pun tidak mengerti apa yang dia goreskan, tapi begitu bermakna, memikat, hingga saya seperti ditarik untuk melihat lebih dalam tentang dia dan lukisannya..
Warna-warna bertebaran di tiap detik yang saya jalani bersama dia, warna-warna cerah, mengalahkan mendung sore, membawa keceriaan..begitu lincah dia memainkan kuasnya dengan kata-kata dan tindakan, terapresiasi dengan baik.. sisi-sisi minor dari diri saya tidak dia sentuh, sengaja, untuk mendapatkan gambar yang penuh kebahagiaan tanpa kesedihan, untuk karyanya yang pertama di kehidupan saya..
waktu menjadi satu-satunya pemisah, penanda bahwa sesuatu yang diawali harus diakhiri,,saya sangat mengerti itu.. tapi saya pun tahu bahwa malam dan siang pun selalu terganti..sore ini perjalanan hidup saya dimulai, siap untuk dijadikan kanvasnya lagi setiap saat dia mau, siap untuk dicoret-coret, digores, bahkan dirajah sekali pun saya tidak keberatan.. karena dia adalah seorang seniman, seniman yang mengerti keindahan..Seorang wanita pelukis kanvas kehidupan






Last comment